Zuhud Terhadap Dunia Merupakan Tanda Umroh atau Haji Mabrur

Zuhud Terhadap Dunia Merupakan Tanda Umroh atau Haji Mabrur

JAKARTA – Tidak mudah untuk mengetahui bahwa umroh atau haji seseorang itu mabrur atau mardud (tidak diterima hajinya). Apalagi menyaksikan langsung pada orang yang baru saja pulang dari menunaikan ibadah umroh atau haji.

Setidaknya umroh atau haji mabrur bisa diketahui dari tanda-tandanya. Siapa orang yang tidak menginginkan syurga? Terus seperti apakah tanda Umroh atau Haji yang mabrur itu?

Menurut Al-Hasan Al-Bashri, tandanya ialah sepulang dari menaikkan Haji, hatinya menjadi semakin zuhud atau tidak dikuasai oleh kemewahan hidup di dunia.

“Haji mabrur adalah Hajinya orang-orang yang pada saat dia kembali ke kampung halamannya, kembali ke tanah airnya, jadi orang yang dia menyebutnya sebagai sosok yang zahidun fiddunya rohibun fil akhiroh”.

Yang secara bahasa artinya orang yang zuhud terhadap dunia dan orang yang punya rasa cinta dan rindu kepada akhirat. Itulah pengertian zahidun fiddunya rohibun fil akhiroh. Dan inilah pengertian orang yang hajinya orang yang umrohnya mabrur di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Artinya, ibadah haji dan ibadah Umroh itu sejatinya adalah ibadah yang mendidik jiwa manusia serta mendidik jiwa siapapun menjadi jiwa yang zuhud kepada dunia dan cinta serta rindu kepada akhirat.

Inilah makna dan tujuan daripada melaksanakan ibadah Umroh atau ibadah Haji. Kita menjadi orang yang zuhud, menjadi orang yang rahibah, menjadi orang yang cinta kepada akhirat yang kemudian dimanifestasikan dalam bentuk menjadikan apapun yang ada dalam hidup kita yang mempunyai nilai akhirat. Dunia bukan lagi untuk dunia, tetapi dunia untuk akhirat.

Baca juga :  Dubes Arab Saudi Klarifikasi Soal Kuota Haji 2021, Begini Penjelasannya

Sedangkan menurut Imam Al-Ghazali, di antara tanda diterimanya haji seseorang ialah meninggalkan kemaksiatan yang menjadi kebiasaan sebelumnya  mengganti teman-temannya yang durhaka dengan teman-teman yang shalih. Meninggalkan majelis-majelis permainan dan kelalaian lalu mengganti dengan majelis dzikir dan kesadaran.

“Selain kedua tanda tersebut, masih ada tanda lainnya yaitu Allah memberikan keberkahan dalam hidupnya,” katanya.

Jamaah haji sepulang dari menunaikan Ibadah Haji, pintu rezekinya terbuka luas. Allah mengganti dengan berlipat ganda seluruh biaya yang digunakan untuk menunaikan ibadah haji.

“Pendek kata, setelah pergi usaha sukses, rumah tangganya sakinah dan amal ibadahnya semakin meningkat,” katanya.

Bila tanda-tanda seperti yang disebut oleh Al Hasan Al bashri Al Ghazali dan tanda terakhir tidak nampak pada orang yang setelah menunaikan ibadah haji, boleh jadi ibadah hajinya tidak diterima oleh Allah. Dan ini menjadi suatu penyesalan bagi jamaah haji.

“Sebutannya adalah Haji mardud atau ibadah haji nya ditolak” katanya.

Leave a Reply